Jumat, 24 November 2017

MENGURANGI SCREEN TIME

Tulisan berikut terinspirasi dari salah satu paragraf yang berada dalam blog milik Mbak Alo dengan judul WEEKLY JOURNAL #35 - A MINDFUL WEEK.

Sebenarnya ada beberapa poin yang disampaikan dalam tulisan tersebut namun entah mengapa saya sangat tertarik dengan satu poin yaitu "Mengurangi Screen Time". Saya pinjam untuk judul juga ya Mbak Alo, hehehe.

"Bener banget nih tulisan", itulah kalimat yang terlintas dalam benak saya sewaktu membaca tulisan milik Mbak Alo satu ini. Kalau bisa manggut-manggut, mungkin saya sudah manggut-manggut tanda setuju namun sayang sekali saya lupa waktu itu saya manggut-manggut atau tidak.


Kesimpulan yang saya peruntukkan bagi diri saya sendiri adalah: bijaklah dalam bermedia sosial. Masih banyak hal yang ingin saya katakan namun saya menyadari bahwa kapasitas saya sangatlah buruk dalam menilai sesuatu maka ada baiknya saya diam. Karena berkatalah yang baik atau lebih baik diam.

Rabu, 22 November 2017

JALAN-JALAN KE BATU BERSAMA SUAMI

Tanggal 19 - 22 Juli 2017 yang lalu saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Batu bersama suami. Sebetulnya masing-masing dari kami pernah ke Batu dengan objek wisata yang sama seperti yang kami kunjungi waktu Juli lalu. Tahun 2016 saya ke Batu bersama rombongan keluarga besar Lapas & Bapas Bojonegoro sedangkan suami sudah beberapa kali ke Batu bersama teman-teman gamers-nya. Karena yang ada di pikiran kami hanya "Malang", ya sudah kami putuskan untuk mengambil cuti dan segera cap-cus ke Malang, yang ternyata Batu.

1. Hari Pertama

 "Halo Batu, tunggu kami ya!"
(tengah malam menunggu kereta di Stasiun Tugu, Yogyakarta)













Setelah mengecek homestay kami yang berlokasi di Batu sekaligus untuk menaruh barang, perjalanan kami lanjutkan dengan langsung turun ke Malang untuk kemudian singgah ke beberapa teman kami yang ada di kota apel tersebut. Salah satunya teman kerja saya ini. Sobat seperjuangan, teman satu angkatan di Kemenkumham. Mbak Feny. Selain itu kami juga sempat mampir ke rumah teman gamers-nya suami, dan juga ke rumah saudara sepupu suami yang ada di sana.

Bakso President. Penasaran dengan citarasa bakso legendaris satu ini, Bakso President. Rasanya enak, namun sayang sekali waktu itu kuah baksonya kurang panas. Tapi kalau saya memiliki kesempatan untuk ke Malang lagi dan ditawari makan bakso ini lagi saya pasti bilang YA! Yang unik dari Bakso President ini adalah letaknya yang sangat mepet dengan rel kereta api, jadi hati-hati ya harus tengok kanan dan kiri kalau mau menyeberang.

 

Batu Night Specacular (BNS). Kebetulan lokasi BNS cukup dekat dengan homestay kami maka dari itu suami saya mengajak saya berjalan kaki sekalian olahraga. Alhasil saya malah keringetan, dan begitu naik wahana pertama (waktu itu spinner dilanjutkan kora-kora) saya hampir "mabok" karena perubahan suhu yang cepat dalam diri saya. Sudah buru-buru pengen balik homestay saja waktu itu karena merasa super meriang, tapi karena suami tahu saya ingin menaiki semua wahana maka suami mengajak saya untuk beristirahat di food court sambil makan dan minum yang panas-panas. Termakan? Terminum? Tidak sama sekali, saya pusing banget. Akhirnya cuma Tolak Angin yang terminum. Setelah agak baikan, suami mengajak saya duduk di sekitar wahana sambil menunggu pemulihan saya, alhamdulillah saya masih diizinkan Allah untuk menaiki semua wahana. Kira-kira sekitar 90% semua wahana saya jajal baik yang sudah termasuk tiket terusan, maupun yang harus mengeluarkan biaya tambahan. Seru? Banget! Tapi saya kapok naik wahana yang tiba-tiba diluncurkan ke atas terus tiba-tiba ditarik ke bawah (lupa namanya), jantung kayak mau copot, kalau yang lain masih oke :)

Oh ya, sepulang dari BNS saya dan suami masih sempat ke Alun-Alun Kota Batu untuk mencicipi ketan legendaris. Pos Ketan Legenda 1967. Super enak. Saya mencoba varian rasa Duren Campur Susu & Keju. Juara!

2. Hari Kedua

Hari kedua kami habiskan di Jatim Park 2: Eco Green Park, Batu Secret Zoo, dan Museum Satwa. Lumayan seru. Di Eco Green Park kami menyewa sebuah E-Bike, lumayan membantu dan tidak bikin capek. Di Eco Green Park kami sibuk mencoba wahana permainan, karena kami sama-sama belum pernah masuk Eco Green Park. Selain itu di Eco Green Park juga ada tempat Spa Ikan, di manapun tempat yang saya kunjungi kalau ada Spa Ikan kaki saya tidak pernah absen untuk nyemplung, hehehe.





Sementara itu, di Batu Secret Zoo dan Museum Satwa energi saya sudah habis, jadi tak terlalu antusias lagi. Terlebih pernah ke sini pada tahun lalu. Pulang dari sini sempat membeli beberapa oleh-oleh kaos-kaos buat keponakan.


Saat di Museum Satwa. Maafkan ketidakjelasan kami.


Malam harinya kami kulineran di Bebek Sinjay Madura yang ada di Malang. Kami harus turun lagi nih dari Batu ke Malang. Tak masalah karena kebetulan saya dan suami penggemar kuliner satu ini. Kebetulan juga pernah makan Bebek Sinjay langsung di Madura. Enak. Sambelnya Pencit-nya juara, meski saya tak begitu suka pedas sih.

Pulang dari Bebek Sinjay, perut kami yang seperti karet masih minta diisi lagi, mungkin akibat diterpa dinginnya malam ya, hahaha, kami lanjutkan perjalanan kuliner di Kedai Burger Buto yang berada di Batu. Tapi sayang, saya lupa foto kedainya.


3. Hari Ketiga

Karena citarasa ketan di Alun-Alun Batu sungguh memukau, saya putuskan untuk sarapan ketan di sini. Untungnya suami juga suka, jadi tidak masalah pagi-pagi sarapan ketan. Saya pilih menu yang sama seperti dua hari yang lalu, yaitu Ketan Durian dan Susu tapi tanpa Keju. Sedang suami, saya kira waktu itu suami saya pilih topping abon. Dari situ saya baru tahu kalau Pos Ketan di Alun-Alun Batu ternyata buka selama 24 jam.



Karena kebetulan itu hari Jum'at maka saya dan suami memutuskan untuk tidak ke mana-mana (suami harus sholat Jum'at) jadi dari pagi sampai menjelang siang, waktu kami habiskan dengan membeli oleh-oleh makanan untuk dibawa pulang besok pagi. Barulah pada sore harinya kami menuju Museum Angkot dan penuh dengan kegiatan swafoto di sana. Meski ini kali kedua bagi saya dan suami saya ke sini, kami tetap antusias, entah kenapa, mungkin karena siang hari kami tidak kemana-mana, jadi energi masih utuh :)







Sepulang dari Museum Angkot, kami makan malam daaan memutuskan untuk membeli beberapa Burger Buto lagi. Hahaha. Rasa-rasanya semua varian harus dicoba. Atau memang perut kami yang terbuat dari karet.



4. Hari Keempat

Saatnya pulang. Oh iya ini penampakan homestay kami (cari-cari di Traveloka), selain itu kami juga sewa motor di sini. Setiap pagi kami diberi susu segar hangat dan pisang goreng enak oleh pemilik homestay. Tak ketinggalan juga stock Pop Mie gratis yang juga merupakan fasilitas homestay ini.

Saatnya pulang. Tinggal capeknya aja, tapi seneng. Sampai jumpa Batu & Malang :)

PERSIAPAN 11 DESEMBER 2016 (SATU TAHUN LALU)

Yup, bulan ini saya sengaja ingin melakukan putar ulang memori tentang persiapan pernikahan saya dengan suami saya yang dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 2016 di Wisma Kagama, Yogyakarta. Hampir satu tahun rupanya, waktu berjalan begitu cepat ya. Alhamdulillah seluruh rangkaian acara dari akad hingga resepsi berjalan lancar...


11 Desember 2016

Sejak kapan seluruh persiapan dilakukan? Saya lupa tepatnya, tapi jika saya kira-kira, persiapan yang kami lakukan memakan waktu kurang lebih tujuh bulan menjelang pernikahan. Singkat ya? Tergantung. Sesingkat apapun persiapan dan bagaimana pun hiruk pikuk menjelang pernikahan, tidak akan terasa jika semua sudah terlewati. Bismillahirrahmanirrahiim...


1. Kami tidak memakai Wedding Organizer (WO)
Ya, kami tidak memakai WO. Semua kami urus sendiri (tentu dengan bantuan seluruh keluarga, terima kasih yang sebesar-besarnya untuk seluruh keluarga besar kami) suka & duka dipikul bersama, dibagi rata. Selain itu alasan kami tidak memakai WO adalah: untuk menghemat biaya (meskipun sebagian besar biaya masih ditanggung orang tua).

2. Pencarian Gedung
Awalnya kami ingin melangsungkan akad dan resepsi di tempat sebut saja A, B, C, D namun pada akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan Wisma Kagama UGM sebagai tempat akad dan resepsi karena di tempat sebut saja A, B, C, D, sudah fully booked oleh para calon pengantin lain jauh hari sebelum tanggal pernikahan mereka. Kalah cepat nih. Hahaha. Kami bisa dapat Wisma Kagama pun di detik terakhir sekitar lima bulan sebelum tanggal pernikahan, itu pun karena mendadak ada calon pengantin yang mendadak membatalkan jadwalnya pada hari itu. Oh ya, khusus untuk KAGAMA bisa dapat diskon gedung (tidak termasuk perlengkapan lain) dengan syarat menyertakan foto copy Kartu KAGAMA kalian. Alhasil, saya dapat diskon deh, lumayan, tapi lupa berapa persen, sepertinya 20% (CMIIW).
Saran saya nih: kalau memang sudah pasti tanggal pernikahan kalian, segera pesen/ booking tempat. Karena calon manten zaman now itu gerak cepatnya luar biasa cepat lho. Kami termasuk mepet pesan gedungnya karena sehabis lamaran baru sibuk sana-sini cari gedung.

3. Menemukan Catering, Dekorasi & Hiburan serta Pranotocoro dalam Satu Waktu :)
Kami memakai catering SARI DEWI yang berdomisili di Denggung, Tridadi, Sleman, Yogyakarta. Waktu itu yang pegang acara kami dari Sari Dewi adalah Mas Budi yang kebetulan sudah kenal baik dengan ibu mertua. Mas Budi ini orangnya baik, ramah, dan kooperatif, bahkan bisa dikatakan Mas Budi ini "WO Bayangan" di dalam acara kami. Bagaimana tidak? Dari catering, dekorasi, hiburan, dan Pranotocoro, semua kami pasrahkan kepada Mas Budi. Sampai bikin grup WA isinya saya, suami saya, dan Mas Budi. Terima kasih banyak ya Mas Budi atas bantuannya :)

salah satu sudut catering, pink around, hahaha

Untuk dekorasi kami pakai "LARISA" milik Mas Totok yang juga temannya Mas Budi. Sebelumnya saya dan suami sudah berusaha nembusi ke dekor A, tapi karena waktu yang cukup mepet maka pada tanggal tersebut dekor A sudah tidak bisa menerima pesanan. Padahal waktu itu empat bulan sebelum Desember lho, sudah penuh saja (kami anggap waktu empat bulan masih cukup untuk pesan ini-itu, ternyata tidak). Hahaha. Untuk dekor, saya pribadi minta gebyok cokelat agar Jawa banget. Malam sebelumnya, ada aksen seperti kain di gebyoknya, tapi karena saya nggak suka, saya minta tolong agar dicopot saja.

pelaminan: tampak samping


Untuk Hiburan serta Pranotocoro semua juga dicarikan oleh Mas Budi, yang saya ingat Pranotocoro pada acara saya tersebut bernama Pak Agung Carito. Tata bahasa beliau bagus. Jawa banget. Sedangkan untuk hiburannya, saya nggak konsen karena sibuk salaman di pelaminan, hahaha. Tapi kayaknya musik campur sari (berbekal melihat video pernikahan yang saya skip-skip). Oh ya sebelumnya sudah saya titip pesan lewat Mas Budi agar para penyanyinya memakai baju yang sopan.

Pranotocoro: Agung Carito

4. Perburuan Singkat si Kain
Butuh dua kali sesi bagi kami untuk mempersiapkan kebutuhan kain. Yang pertama untuk keluarga, dan yang kedua untuk kami sendiri. Semua dibeli di toko kain di Jalan Solo, Yogyakarta. Sesi pertama, saya bersama ibu yang juga tidak suka ribet-ribet langsung meluncur ke Mac Mohan, memilih beberapa kain, kemudian memutuskan untuk membelinya. Sebelum pulang saya dan ibu sempat ke toko kain seberang Mac Mohan sebagai tambahan referensi membeli kain untuk kebaya akad saya nanti. Sesi kedua (sekitar satu minggu setelahnya) saya bersama suami menuju di toko kain seberangnya Mac Mohan, Mumbay Textile kalau tidak salah. Di sana saya beli bahan untuk kebaya akad, sedangkan suami saya membeli bahan untuk satu stel jas.
Saran saya nih: kalau memang kalian punya banyak waktu, atau memang domisili di Jogja, sangat bisa untuk berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk menemukan kain yang dirasa paling pas di hati. Karena saya tidak memiliki keduanya pun selera saya terhadap fashion sangatlah kurang maka seluruh kegiatan kami lakukan dengan efektif dan efisien. Sat, set, sat, set. Beres.


5. Memilih Dokumentasi
Kami memilih Mr. Catch Photography sebagai vendor kami dalam hal dokumentasi. Meskipun bukan vendor besar, mereka bekerja dengan cukup baik dengan hasil yang cukup memuaskan. Kami bahkan  mendapat seluruh soft file secara cuma-cuma, baik foto yang sudah diedit maupun yang masih mentah. Selain itu kami juga dapat album foto tematik, album foto biasa, dan video lengkap dari akad hingga resepsi, serta jeng-jeng-jeng wedding clip (yang sedang kekinian itu). Tidak cukup sampai di situ, kami juga dapat bonus foto prewedding dari Mas Bayu ownernya @mr.catch_photography (akun IG dari Mr. Catch). Untuk hasilnya, bisa dilihat dari beberapa foto yang saya unggah di sini.
Saran saya nih: Ceritakan semua konsep foto yang kamu inginkan, bisa juga pesan untuk tidak memasukkan foto tanpa jilbab di dalam album maupun video (pada saat rias). Untuk memudahkan komunikasi kami dengan Mas Bayu, saya membuat grup WA yang isinya kami bertiga. Di situ kadang saya memberikan contoh konsep foto yang saya inginkan kepada fotografer saya ini.

6. Paket Undangan, Souvenir, dan Buku Tamu
Undangan, souvenir, dan buku tamu kami pesan di "rscard souvenir" (Mbak Elisa). Silakan diklik jika ingin meluncur ke webnya. Cara kami menemukan Mbak Elisa ini lewat teman suami dengan harapan dapat diskon. Dan akhirnya kami dapat diskon juga, alhamdulillah. Mbak Elisa ini juga sangat baik, mau beberapa kali mengedit EYD yang kami rasa kurang tepat (tentu saja sebelum naik cetak). Maafkan keribetan kami (terutama saya) soal EYD ya Mbak. Hihihi. Untuk design, kami design sendiri lho, dan Mbak Elisa yang mencoba menjembatani keinginan kami tersebut.

Undangan kami
Souvenir: Kipas
Saran saya nih: kalau kalian punya waktu banyak, bisa aja cari vendor yang berbeda untuk tiap itemnya. Tapi karena keterbatasan jarak dan waktu, kami memutuskan untuk memilih memesan undangan, souvenir, dan buku tamu dalam satu tempat. Hemat waktu, hemat biaya, hemat tenaga. Selain itu jangan lupa bikin grup WA dengan masing-masing vendor biar komunikasi bisa dua arah dan semua pihak bisa ikut paham kemauan kita.


7. Mas Kawin dan Seserahan
Untuk mas kawin dan seserahan saya pesan di Omah Undangan dan Galeri Seserahan Jogja. Omah Undangan sendiri buka beberapa gerai, dan saya pesan yang ada di Jalan Affandi (Jalan Gejayan), Yogyakarta. Untuk seserahannya, kami percayakan kepada Mbak Eni Galeri Seserahan Jogja. Pengerjaan cukup cepat dan teliti. Boleh dicoba.
IG: @omahundangan
IG: @galeriseserahan_jogja

Salah satu seserahan berupa sandal njagong dan tas njagong yang sudah dibungkus rapi oleh Galeri Seserahan Jogja

8. Rias Paes Ageng Kanigaran Muslim dan Adat Panggih
Paes Ageng Kanigaran Muslim. Pernikahan Jawa banget yang merupakan impian saya sejak lama. Sebagai informasi, riasan di kepala lumayan berat, bajunya berlapis-lapis sehingga yang sudah punya badan seperti saya bakal terlihat makin penuh. Selain pakai kemben untuk membentuk badan, kita juga harus pakai dodot lho, sehabis itu baru dibalut kain beludru hitam. Bagus, cantik, saya suka baju dan riasannya. Lain waktu akan saya coba tulis bagaimana filosofi Paes Ageng Kanigaran ini.
Setelah akad nikah, saya dan suami berganti pakaian untuk kemudian menjalani Prosesi Adat Panggih. Di mana manten kakung dan puteri dipertemukan sebelum naik ke pelaminan, filosofinya menyusul di waktu lain ya. Semoga.
Bagi yang ingin mengenakan riasan Paes Ageng Kanigaran dengan harga yang tidak terlalu melambung saya berani menyarankan untuk bekerja sama dengan Rias Ayu Daruasih. Bajunya bagus, berkualitas, riasannya juga awet sampai akhir acara. Terima kasih banyak Mbak Dima, Ibu Eni, dan team atas bantuannya.

Paes Ageng Kanigaran Muslim

9. Persiapan Administrasi
Jangan lupa, persiapkan kebutuhan administrasinya. Bisa tanya-tanya ke KUA terdekat (pada saat nulis ini saya sudah capek, hahaha maaf, lain kali kalau sempat edit akan saya perbaiki).

10. Pengecekan Kesehatan dan Vaksin
Bagi teman-teman yang dalam waktu dekat akan menikah, persiapkan dirimu dan juga pasanganmu, baik secara fisik maupun mental. Bismillahirrahmanirrahiim. Insha Allah segala niat baik akan diberikan kemudahan dan kerahmatan dari Allah SWT. Aamiin.



Akhir kata, terima kasih saya ucapkan kepada seluruh pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah membantu jalannya pernikahan kami pada tanggal 11 Desember 2016 yang lalu. Terutama kepada kedua orang tua kami. Mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dari kami sekeluarga. Tak lupa kami sampaikan matur sembah nuwun kepada para tamu undangan, teman-teman, juga sahabat yang hadir untuk memberikan doa restunya kepada saya dan suami, mohon maaf apabila sambutan kami kurang berkenan di hati para tamu, teman-teman, dan juga sahabat sekalian.

Salam,
Yusrin & Galih

Selasa, 21 November 2017

ketika "quotes" menjadi boomerang

gambar diambil dari google
hayo, pasti kita sering melihat quote ini berseliweran di media sosial kita, ngaku? baik diposting di medsos atau juga dipasang sebagai profile picture. quote yang satu ini adalah quote yang cukup populer di kalangan penikmat quote sejagat media sosial, yang saya tahu.

kali ini saya tidak bermaksud memperpanjang ataupun melebarkan makna dari quote ini. tapi saya ingin mencoba mengulik sisi lain dari susahnya mengemban amanah sebuah quote yang diposting di medsos. kenapa?
jujur saja, saya sedikit gagap apabila berpapasan dengan quote ini, di sisi lain ketika kita posting quote ini, bisa diasumsikan bahwa quote ini adalah pengingat agar diri kita tidak terlalu menampak-nampakkan pencapaian yang tengah diraih, dari hal sederhana berupa keseharian maupun beragam aktivitas yang menunjang kehidupannya kelak. namun di sisi lain, karena segala macam aktivitas maupun pencapaian berpotensi membuat orang lain yang belum bisa berada dalam situasi tersebut menjadi ciut nyalinya, menjadi sedih, menjadi iri. bahaya ya?

quote ini bisa juga digunakan sebagai sindiran halus bagi lingkungan sekitar yang dirasa terlalu berlebihan dalam mengekspose dirinya. dirasa tidak perlu, dirasa hanya menimbulkan iri dengki?

siapa yang harus berbenah kemudian? kami yang melihat, atau kami yang berbagi kisah. masa yang boleh berbagi kisah keseharian dan pencapaian hanya artis? bagaimana jika ternyata kisah keseharian atau pencapaian kita bisa berguna bagi orang lain?

saya rasa, bolehlah kita berbagi keseharian dan pencapaian, dan apabila itu membuat orang lain tidak nyaman, mungkin ada yang salah dengan hati yang bersangkutan, sederhananya, tidak usah klik tombol ikuti jika akun-akun tersebut kita anggap tidak menghadirkan faedah.

kita ambil manfaat lainnya, pengalaman dari membaca dan melihat situasi.

suka duka berjualan online

gambar koleksi pribadi



siapa yang sering berbelanja online? pasti banyak ya. terlebih kids jaman now nih, yang sangat dekat dengan teknologi, belanja online tentu bukanlah sebuah hal yang asing. baik sekedar menjadi pengamat saja ataupun menjadi konsumen online. oh ya? saya di sini bukan ingin mengulas kelebihan dan kekurangan belanja online, lebih kepada cerita singkat yang dibalut dalam suka dan duka saya saat berjualan online di akun instagram.

awalnya, kira-kira awal bulan mei 2017 saya memutuskan membuat sebuah akun instagram untuk berjualan online. adakah alasan dibalik itu semua? tentu saja, saya ingin melakukan pengalihan dan mencari kesibukan lain di sela kesibukan yang ada, waktu itu saya dalam masa up and down karena sempat mengalami keguguran. produk yang saya jual adalah sheetmask. apa itu sheetmask? bisa diklik di sini :). pertama tahu sheetmask dari beberapa teman saya dan beberapa selebgram yang saya follow di instagram. di akun instagram, mereka menceritakan manfaat memakai sheetmask yang pada akhirnya membuat saya penasaran. karena saya tidak suka basa-basi, saya tanya ke teman saya dan juga scroll-scroll timeline instagram tentang sheetmask. hahaha. paham deh akhirnya.

saya termasuk orang yang jarang mengaplikasikan make up bahkan skin care di muka saya, saya pernah juga lho kena demam sheetmask ini, seru aja gitu pas pakai, bahkan akhirnya memutuskan untuk berjualan. untungnya besar? iya sih kalau digeluti secara telaten, cuma ya itu tadi, saya kurang telaten aja :) yang penting sudah balik modal dan untung sedikit, saya lantas bikin boom sale besar-besaran dengan tujuan agar barang cepat habis. barangnya asli? tentu saja, saya pesan langsung lewat website jual beli skin care korea. bisa googling ya cara belanja-belanji lewat web yang  jumlahnya ada bermacam-macam itu.

suka duka jualan online apa sih?
sukanya:
  1. dapet duit :)
  2. sensasi barang laku itu bikin gimana gitu
  3. chit-chat seru sama orang tidak dikenal ngobrolin seputar hal yang dijual alhasil nambah saudara (untuk yang satu ini saya melakukan riset cukup mendalam biar kalau ada konsumen tanya-tanya saya bisa jawab-jawab :p)
  4. dll
dukanya: 
  1. hit & run
  2. konsumen ga mau baca caption, jadi harus beberapa kali jelasin ulang
  3. susah bagi waktu sama kerjaan
  4. dll
oke, jadi cukup seimbang ya suka duka jualan online ini. namun di akhir tahun 2017 ini saya putuskan memilih untuk mengadakan boom sale karena saya rasa saya sudah tidak mampu lagi untuk bagi waktu balesin chat-chat yang agak banyak dan rekap order di excel (idih sok laku). oh ya, biarpun masih pemula, saya sudah bikin buku kas umum dan buku kas pembantu dalam proses jualan ini lho, jadi bakal ketahuan nanti untunya berapa, dll, dll. lumayan ilmu akuntansi kepakai di sini. 
 
kesimpulannya: karena tuntutan pekerjaan yang semakin banyak dan membuat saya  sering dinas luar, pada akhirnya saya putuskan untuk usai di sini kisah jualan sheetmask saya. namun demikian tak menutup kemungkinan jika suatu saat hari saya akan berjualan lagi, entah online, entah jualan langsung, karena jualan itu asik, seru. kalau telaten :p