Minggu, 24 Maret 2013

mengingat bahwa yang nyata itu fana


Menurutmu, apakah yang paling dekat dengan diri kita? Ya, kematian, bisa saja Tuhan. Kematian, dan Tuhan. Dua hal yang berbeda. Kematian adalah masa, sedang Tuhan adalah Dzat Yang Maha Sempurna. Kuyakini betul, bukan kebetulan, tetapi betul percaya, mempercayai, mengakui, mengimani, iman.

Kematian bisa datang sewaktu-waktu, kita manusia menjalani saja kehendak Dzat Yang Maha Sempurna. Dan luar biasa, kematian selalu menghadirkan suasana yang, entah bagaimana kau menggambarkan kesedihan juga kehilangan? Dominasi antara kesedihan akan kehilangan adalah ritme hidup yang mengalir begitu saja, sedih karena kehilangan, bisa saja sedih karena tidak bisa bertemu lagi secara fisik di alam yang sedang kita jalani ini. Jika ini alam nyata, jika dunia ini fana, apakah nyata itu fana? Sejatinya begitu. Kenyataan bahwa kita hidup pun akan dibuktikan dengan kematian kita dan menggarisbawahi bahwa nyata adalah fana.

Semati-matinya kita kelak, siapapun tidak akan mampu membayangkan rasanya. Mungkin akan tergambar melalui ayat-ayat Dzat Yang Maha Sempurna pun jika kita mengetahui. Pada dasarnya, seringkalinya, kita hanya tidak tahu, bagaimana menghadapi kematian. Dan ketika kelak kematian menghampiri, semoga iman cukup untuk mengakomodasinya pada kelas eksekutif. Wallahualam… Manusia berusaha, manusia mengingat… Tuhan menentukan… Aku percaya saja itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar