Selasa, 16 April 2013

perempuan #3


picture source

baiklah, sudah memasuki episode ketiga sebuah ekspresi berbentuk tulisan mengenai perempuan. and maybe it takes more times to express about it. i will.

istilah emansipasi kemungkinan sudah melekat dalam ingatan manusia indonesia. khususnya ketika manusia indonesia mulai mengenal "ibu kita kartini", sebuah kisah di mana lewat lagulah manusia indonesia memahaminya. mengawalinya. semuanya. "ibu kita kartini, puteri sejati, puteri indonesia, harum namanya..." bahkan, kau pernah membaca sebuah tulisan, bukan selayaknya "ibu kita kartini" yang harus kita ingat sebagai pejuang emansipasi wanita. tetapi justru wanita-wanita lain yang terjun langsung kepada medan perang. boleh, bisa, dan pantas. tetapi perjuangan "ibu kita kartini" pun patut kita apresiasi, karena ia berjuang melalui pendidikan. mungkin baginya tiada akses untuk terjun ke dalam medan perang sehingga ia mencari cara lain untuk memperjuangkan statusnya, dan juga kaumnya, p-e-r-e-m-p-u-a-n.
menjadi perempuan bukanlah sebuah perumpamaan akan protes, tetapi menjadi perempuan adalah sebuah protes keras!

berikut adalah tulisan penuh nada tinggi jika kau membacanya, tulisan yang spontan kutulis pada kertas, because at that moment i wasn't available to reach the internet and start blogging.

perempuan #3, 15 April 2013
aku memulai cerita dengan banyak keraguan. diawali dengan pertanyaan?
mengapa perempuan diciptakan di bumi?
apakah "hawa tercipta di dunia untuk menemani sang adam?" hanya teman?
satu kalimat, yang akan menyinggung dan begitu menyentuh hatiku sebagai perempuan yang paling dalam. bahkan pernah aku membaca, emansipasi wanita adalah sebuah keharaman. bahkan di dalam agamaku sendiri, kepercayaanku.
sedih! sedih sekali atas kesadisan ini! aku kecewa, ya, kecewa begitu saja. perempuan hanyalah objek, hanya karena ia memiliki bentuk yang indah dan serta merta menghidupkan hormon-hormon yang bisa saja tak terkendali, apakah hanya sebagai objek yang harus dieksplorasi? iklan, film, mengerikan! sungguh!
jika manusia perempuan tercipta untuk menjadi rendah, mengapa tidak perempuan memiliki kesadaran akan hal itu? duhai girls, aku benci, jika kaum kita direndahkan. dalam wujud apapun. perempuan harus bisa ini-itu? menjadi perempuan adalah cobaan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar