Sabtu, 06 April 2013

tulisan bengong



Barangkali…

Ya, barangkali orang yang hidup di masa kini memang ditakdirkan hidup untuk menikmati segala hingar bingar kemeriahan yang ada. Sedangkan orang yang hidup pada masa sebelum kekinian, ditakdirkan hidup untuk menikmati segala yang orang masa kini sebut sebagai penderitaan. Ya, barangkali…

Jika orang bilang kemudahan yang ditawarkan dalam kemudahan yang ada di masa kini adalah cobaan, hal tersebut akan menjadi masuk akal apabila dinalar secara sosiologis. Bagaimana tidak? Kemudahan yang ada, loncat dalam hal internet misalnya, cenderung memudahkan orang untuk berkomunikasi. Sebut saja media online masa kini yang begitu banyak, sosial media sendiri memliki Twitter, Instagram, Path, atau bahkan Facebook yang belakangan mulai ditinggalkan. Belum lagi wahana online chat lainnya seperti BBM, WhatsApp, LINE, We Chat, atau bahkan Kakao Talk. Arena komunikasi barangkali telah tersubstitusi melalui hal-hal tersebut. Intensitas kopi darat mungkin lebih ditekankan pada kepentingan yang benar-benar penting, seperti ketika dibutuhkan obrolan yang lebih dan  tidak akan tuntas apabila hanya dilakukan melalui media-media online tersebut. Barangkali...

Barangkali, media online mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dan barangkali, orang-orang kekiknian terlalu sibuk mengurusi dirinya di belahan dunia online. 

Terlalu banyak halaman-halaman yang berakibat pada penyempitan arena interaksi. Kebijakan dalam bersosialisasi di media online barangkali ada, dan sepertinya memang ada. Tapi tulisan ini ada bukan untuk menyoroti hal tersebut. Tetapi bagaimana menjawab pertanyaan yang menuntut sebuah konklusi atas peristiwa yang… Ah barangkali lebih tepat disebut sebagai “fenomena online” ini.
 
Indonesia adalah negara dengan pengguna media online terbesar ke berapa ke dunia (bisa searching untuk memperdalam hal ini), hal tersebut tentu saja membuktikan bahwa akses masyarakat Indonesia terhadap media online lumayan tinggi. Kebutuhan akan akses kepada media online di Indonesia bisa dikatakan cukup tinggi. Lantas untuk apa hal tersebut dilakukan? Barangkali pemenuhan kebutuhan akan ilmu pengetahuan yang tidak didapat dari pendidikan formal yang ditempuh atau juga barangkali sebagai arena pemenuhan hiburan. Ataukah kultur masyarakat kita yang memuja keleha-lehaan? Ataukah media online adalah bentuk penjajahan baru kepada Bangsa Indonesia? Lantas siapa yang bertanggung jawab atas penjajahan yang bersifat massif ini? Ya, barangkali. Tapi apa benar jika penjajahan yang disebut sebagai penjajahan di Indonesia hanya berlaku bagi masyarakat Pulau Jawa. Silakan bermain logika, Pulau Jawa adalah pulau paling maju dalam hal infrastuktur di Indonesia. Meski di Jawa sendiri juga tidak merata dalam hal pendistribusian infrastuktur tersebut, tetapi dapat dikatakan bahwa Jawa adalah pulau paling maju di antara pulau-pulau lain di Indonesia. Ya, barangkali begitu, karena pada kenyataanya di pedalaman nun jauh di Halmahera, Paser, Fak-Fak, listrik pun belum menjadi sahabat karib.

Pelan dan perlahan, diperlukan upaya penyadaran pribadi dari masyarakat yang menganggap dirinya kekinian untuk menyadari potensi dan juga keterbatasan yang barangkali lebih semarak di negeri ini daripada semaraknya kemudahan yang terlanjur dialami…

Dan barangkali, segala yang disebut hingar bingar kemeriahan kemudahan masa kini adalah penderitaan bagi masa sebelum kekinian… Karena kemudahan, bisa jadi awal perpecahan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar