Kamis, 30 November 2017

BERBAGI ADALAH PEDULI #1

Sedikit mengulang namun bukan meratap sarat emosi seperti dalam Berbagi Kisah.

Rezeki, jodoh, dan maut adalah rahasia bagi mereka yang mempercayaiNya.
Dan saya percaya itu. Sebuah kata sederhana dan sangat mudah untuk diucapkan, terlebih bagi mereka yang telah memiliki segala, merangkul semua. Lain halnya bagi kami yang masih mengeja segala dan menerima nyata dengan penuh harap dan pinta. Semoga segera bertemu muaranya...


gambar pribadi: strip dua pada TP sudah agak pudar karena baru kali ini difoto setelah hampir sembilan bulan disimpan

Bulan Desember 2017 nanti seharusnya menjadi bulan kelahirannya, tabungan kami di akhirat, Insha Allah. Bulan Desember 2017 yang juga bertepatan dengan satu tahun pernikahan kami. Bagi kami yang masih merindukan buah hati, mengamini segala doa agar senantiasa sabar adalah perjuangan. Up and down tengah kami jalani saat ini, terutama saya. Sehingga, saya ucapkan terima kasih banyak kepada keluarga saya yang selalu mendukung saya, sahabat saya yang selalu ada dan setia memberi semangat, dan juga teman-teman saya yang masih sama-sama berjuang dan tak pernah ragu untuk bertukar kisah. Serta teman-teman yang begitu baik hati bercerita tentang kehamilannya, semoga kalian diberikan kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan selalu dalam menjalani proses kehamilan dan kelahiran nanti. Dukungan sangat berarti di sini.

Saya yang masih mendamba, pun belum tahu kapan kami akan kembali diberikan kepercayaan kembali oleh Allah SWT. Doa dan ikhtiar adalah utama. Saling menyemangati antara suami dan istri adalah kuncinya. Sabar...

Sedikit cerita, saya pun sering kali mendapatkan pertanyaan bahkan pernyataan yang kadang kurang saya bisa terima dengan baik dari orang-orang di sekitar saya saat ini. Saya hanya manusia biasa dan saya tidak menyalahkan mood. Kadang pertanyaan maupun pernyataan tersebut saya masukkan ke hati, kadang juga berusaha untuk saya maklumi. Mereka-mereka yang sampai hati berkata seperti itu, bahkan beberapa hari setelah saya kehilangan janin saya pastilah tidak pernah mengalami hal yang sepertinya ringan saja bagi mereka, bedanya, saya hanya menceritakannya, menuliskannya. Karena bercerita dan menulis adalah terapi. Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

Pun jika bertemu dengan relasi baru saat bekerja, saya sudah menyiapkan diri dengan pertanyaan "Sudah punya anak?". Tapi saya tidak sakit hati, saya malah meminta didoakan. Bukan sebuah kesalahan untuk bertanya, dan bagi saya yang masih berjuang, pun tengah berjuang berdamai dengan dengan segala pertanyaan dan pernyataan. Hahaha. Saya rasa mental saya tengah dibentuk. Saya siap! Semangat.

Untuk ibu-ibu di luar sana yang masih berjuang, ingat pepatah lama "Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar