Sabtu, 13 Oktober 2018

BERJARAK

Memberi jarak kepada diri sendiri terhadap akses yang maha luas di media sosial membuat saya beberapa tingkat lebih waras. Sebut saya menarik diri...

Kejenuhan dan kebosanan mulai membanjiri lubuk hati yang terdalam ketika saya semakin menyelami dunia maya, beramah tamah, menjaga perasaan, tapi mengabaikan apa yang bergejolak dan minta diperjuangkan. Sebut ini fase tapal kuda pada demam berdarah.

Kurang lebih sejak akhir bulan Agustus 2018 kemarin saya memutuskan untuk berhenti bermain Instagram, Twitter, dan Facebook yang beratasnamakan saya. Tutup akun. Gulung tikar. Menjalani hidup yang sesungguhnya. Namun di awal bulan Oktober 2018 saya putuskan untuk kembali mengaktifkan akun Facebook saya (sebatas Facebook saja), dengan catatan memberi jarak kepada beberapa akses pertemanan. Bukan tidak ingin mengenal dan berteman lagi, tapi dengan bersikap seperti ini membuat saya jauh dari prasangka dan berburuk sangka. Peliknya silaturahim masa kini diidentikkan dengan berjejaring sosial, mengandalkan jempol dan kuota juga wifi yang sarat dengan gadget tercanggih. Tapi perlahan ada konsep yang belum bisa saya terima, tak sanggup menghadapi, saya undur diri tanpa pamit.

Sebut apa saja yang tengah saya alami, dengan menjalani hidup seperti ini membuat saya benar-benar terbebas dari penyakit hati. Media sosial adalah kebebasan yang bersyarat, syarat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dan saya merasa bebas seperti ini, tanpa perlu mengukur pencapaian yang seharusnya dan seharusnya telah saya capai. Saya hanya tidak ingin menjadi hambaNya yang kufur nikmat. Itu saja.

Btw saya tengah menyikapi tulisan saya sendiri di SINI

Selasa, 04 September 2018

Kembali ke Kampung Halaman

"assalamu'alaikum wr. wb....
alhamdulillah, banyak cerita indah yang terlewati. salah satunya, sejak bulan mei 2018 kemarin saya resmi pindah jogja.
alhamdulillah.
berkumpul lagi dengan keluarga...
satu atap dengan suami...
alhamdulillah...

ya, terlalu banyak yang harus disyukuri daripada diratapi.
kehidupan yang sesungguhnya, sudah dimulai.
bismillahirrahmanirrahiim..."


Kurang lebih, kalimat tersebut telah menggambarkan ujung perjalanan saya merantau di Jawa Timur. Yap, kembali ke kampung halaman. Jogja Istimewa. Tak terasa blog ini semakin lama tak tersentuh, jujur saja, perjalanan mutasi dan kegiatan saya yang sepertinya tak kunjung usai membuat saya tak punya cukup waktu sekadar menulis di sini. Pun, laptop saya mati sejak bulan Mei kemarin. Pada intinya saya sangat bersyukur, bisa kembali ke kampung halaman. Mengisi kehidupan sebelum kembali ke pangkuan-Nya. Semoga menjadi insan yang lebih baik dan bermanfaat selama di dunia agar menjadi bekal di akhirat kelak. Karena apa sih sejatinya hidup yang cuma mampir ngombe ini?
Semoga kita selalu berada dalam perlindungan Allah SWT, serta segala doa dan harapan selanjutnya lekas bertemu muaranya. Aamiin aamiin aamiin yaa rabbal alamin.

Jumat, 15 Desember 2017

REFLEKSI AKHIR TAHUN 2017

Refleksi terkesan klise, tapi apakah dengan memaknai hal yang harus digarisbawahi dalam satu tahun ini bertentangan dengan hak asasi? Jawabannya tidak. Setiap kita berhak mengambil hikmah dalam setiap peristiwa yang telah dialami, berdamai, menerima, ikhlas.



Jika hidup diibaratkan sebuah buku maka sudah sampai halaman berapakah saat ini? Seberapa tebalkah buku yang mengisahkan tentang kita? Apakah masih panjang perjalanan kita? Ataukah sudah mendekati akhir cerita?

Bersyukurlah, sekalipun itu cobaan. Bersyukurlah, terlebih itu nikmat. Tidak semua dapat kesempatan untuk merasakan nikmat dan cobaan secara seimbang.

Minggu, 10 Desember 2017

BELI SUSU DAN ROTI GULUNG DI CIMORY SEMARANG

Setelah beberapa kali melewati tempat ini saat pergi ke Semarang atau bahkan hanya nitip dibelikan susu akhirnya pada hari Sabtu, tanggal 09 Desember 2017 saya berkesempatan datang ke Cimory on the Valley. Berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, km. 30, Jatijajar, Bergas, Semarang, Jawa Tengah (kalau dari arah Jogja kanan jalan), Cimory on the Valley menghadirkan konsep peternakan hewan dan menyatu bersama alam (sok tau dan tanpa riset loh, hahaha).




Tepat jam 9 lebih 15 menit saya dan keluarga sampai di lokasi, tempat parkir sudah penuh dengan mobil dan bus! Setelah saya masuk ke dalam, barulah diketahui bahwa banyak rombongan anak TK dari berbagai wilayah yang tengah berbaris sedang mengadakan kunjungan ke sini. Ya itu tadi, mungkin memperkenalkan konsep peternakan hewan dan kembali ke alam. Awal mula saya dan keluarga bisa sampai di sini karena minggu lalu saya pulang kampung dan Bapak kepingin diajak jalan-jalan. Bingung mau ke mana, ya sudah saya tentukan tempat ini sebagai destinasi. Barulah pada minggu ini rencana tersebut dilaksanakan. Sebenernya karena saya juga kepingin minum susu Cimory yang nggak dijual di Indomaret sih, hehehe.



Tiket masuk ke lokasi peternakan dan (perkebunan yang belum jadi?) seharga Rp 15.000,- dan nantinya bisa ditukar dengan satu buah yogurt kecil. Kami kira nggak boleh bawa air minum ternyata boleh, alhasil kehausan pas di dalam lokasi karena cuma ada penjual sosis bakar. Hahaha.










Beberapa titik masih diperbarui oleh tukang-tukang. Sepertinya bakal ada calon Rumah Hobbit, tanaman buah atau sayur dan lain sebagainya di dalam sini. Menilik dari prediksi suami saya, 6 bulan lagi beberapa titik di Cimory on the Valley sudah siap dan bakalan lebih indah dan asri untuk dipandang.





Tempat sampah tersedia di banyak tempat, jadi nggak ada alasan untuk buang sampah sembarangan kan?




Iya, hati-hati ya, beneran banyak anak tangganya. Lumayan buat olahraga kalau bolak-balik muterin lokasi sebanyak minimal 5x.




Yap, sampai di penghujung perjalanan. Kami harus kembali ke jalur awal di dekat pintu masuk sebelum keluar. Menurut saya kurang efektif, tapi ya kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh belum siapnya sarana dan prasarana. 60% saya cukup menikmati tempat ini. Karena saya wong ndeso, jadi kalau melihat sawah-sawahan, kebun-kebunan, dan peternakan, sudah cukup lumrah. Bedanya di sini, lebih rapi, lebih bersih, yaiyalah. Saya kurang paham pabrik yang di dekat pintu keluar ini apakah pabrik betulan atau hanya display. Karena mesin mati dan tidak ada orang, atau libur? Hehehe saya tidak menanyakan hal tersebut kepada petugas.









Yuhuuu, inilah tujuan saya memilih Cimory on the Valley: beli susu dan roti gulungnya. Hehehe. Oh ya, roti gulungnya tenrnyata enak lho (setidaknya menurut lidah saya), teksturnya lembut, nggak manis banget, nggak bikin eneg. Sesuai selera banget deh. Kalau ke sini boleh beli, atau nyoba testernya aja nggak apa-apa, hahaha.




Di sini juga ada restonya, tapi karena paginya saya dan keluarga sudah sarapan di Warung Sop Senerek Bu Atmo Magelang jadilah kami tidak makan di sini. Kalau makan di sini, nanti buat beli bensin pas perjalanan pulang pakai apa. Hahaha. Terlepas dari itu, memang tujuan kami (saya ding), beli susu sama roti gulung. Pukul 01 siang saya dan keluarga sudah sampai di rumah dengan selamat, alhamdulillah.

Selasa, 05 Desember 2017

BIOSKOP DI BOJONEGORO!

Bojonegoro, sebuah kabupaten dengan luas 2.307 kilometer per segi yang menyimpan cadangan migas  nasional sebesar 20%. Sebuah kabupaten di Jawa Timur yang rutin menjadi langganan banjir pada tiap tahunnya. Cobalah ke Bojonegoro si Kota Ledre ini, kota yang senantiasa panas pagi-siang-malam.

Kesan pertama menginjakkan kaki di kabupaten ini yakni pada bulan April tahun 2015 adalah sepi. Kebetulan saya bertugas di ibukota kabupaten, jadi ya alhamdulillah beberapa fasilitas sudah cukup lengkap. Semuanya harus disyukuri, masih ada Toga Mas (bisa beli buku bacaan deh), masih ada Giant Express (sering berburu diskon akhir bulan), masih ada Indomaret-Alfamart, masih ada beberapa tempat les pelajar yang cukup me-nasional, bank-bank nasional juga lengkap, ada beberapa supermarket dengan harga murah (favorit saya belanja bulanan: Bravo), ada tempat makan gaul-gaul yang mulai tumbuh (favorit saya: Ayam Geprek Nano & Milk Shake, Ayam Geprek yang logonya kuning, Javanilla, dan Leko), beberapa pilihan ekspedisi seperti JNE, J&T, TIKI, dan POS, dan sarana transportasi umum dari bus dan kereta (tapi sayang sekali tidak ada jalur kereta langsung ke Jogja). Tahun lalu bahkan sudah berdiri Go-Fun (Bojonegoro Fun) sejenis BNS kalau di Malang. Terlalu banyak yang harus disyukuri bukan? Ternyata standar rasa syukur saya di sini adalah beberapa hal yang sudah familiar di Indonesia.

Selama hampir tiga tahun ini saya sering mengandai jika Bojonegoro memiliki bioskop (ya, saya suka nonton film), pastilah akhir pekan saya akan lebih menyenangkan (jika saya tidak pulang Jogja). Kira-kira pada bulan Juni tahun 2017 pengandaian saya menemukan muaranya, Bioskop di Bojonegoro hidup kembali. Hidup kembali? Iya, pada tahun 1991 Bojonegoro sempat memiliki bioskop, namun sempat vakum cukup lama dengan alasan yang tentu saja saya tidak tahu. Senang? Alhamdulillah. Jika saya tidak pulang Jogja dan suami yang ke Bojonegoro, akhir pekan sudah pasti kami habiskan nonton film di bioskop. Hiburan! Hahaha (jadi tidak perlu lagi ke Surabaya untuk sekedar menonton film)...

Terima kasih New Star Cineplex Bojonegoro sudah lahir kembali. Oh ya, kalau mau nonton kalian bisa datang ke Jalan Hayam Wuruk, No, 74, Bojonegoro (Seberang Pengadilan Negeri Bojonegoro).